Kamis, 14 Agustus 2014

Hamengkubuwono VII, Pakubuwono X, Hamengkubuwono IX, dan Paku Alam VIII

(klik untuk memperbesar)
Waktu: Sekitar 1930 (?)
Tempat: Solo
Tokoh (dari kiri ke kanan): BRM Dorodjatun (kelak menjadi Hamengkubuwono IX), Hamengkubuwono VII (Sultan Yogyakarta), Pakubuwono X (Raja Kasunanan Surakarta), 2 wanita yang belum teridentifikasi, BRMH Sularso Kunto Suratno (Paku Alam VIII)
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Sebelumnya ada kesalahan penulisan, tertulis "Hamengkubuwono X" padahal seharusnya "Hamengkubuwono VII".


UPDATE 11 Juni 2020: Foto yang sama dalam ukuran yang lebih besar

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Rabu, 13 Agustus 2014

Keraton Solo di tahun 1909

Penari keraton (klik untuk memperbesar - (c) gahetna)
Kereta Sunan Pakubuwono X (klik untuk memperbesar - (c) gahetna)
Prajurit keraton (klik untuk memperbesar - (c) gahetna)
Tandu untuk para putri (klik untuk memperbesar - (c) gahetna)
Waktu: 1909
Tempat: Solo
Tokoh:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:
Gapura-gapura di foto keempat bertuliskan:

... [J]ang Dipertoewan Toewan
... [Gover]neur Generaal
... [Ne]derland

Slametnja Sri Baginda Maharadja Wilhelmina di Nederland

Slametnja Sri Padoeka Toewan Soesoehoenan di
Soerakarta

Selasa, 12 Agustus 2014

Bung Hatta, Mangkunegara VIII, dan Pakubuwono XII di Belanda, 1949


Waktu: Agustus 1949
Tempat: Bandara Schiphol, Belanda
Tokoh: Muhammad Hatta (Ketua Delegasi Indonesia untuk Konferensi Meja Bundar), Pakubuwono XII (Raja Kasunanan Surakarta, bermantel gelap), Mangkunegoro VIII (Pangeran Praja Mangkunegaraan, bermantel lebih terang)
Fotografer: Nederlands Fotobureau
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Pakubuwono XII dan Mangkunegoro VIII tidak termasuk anggota delegasi Indonesia di Konferensi Meja Bundar.

Senin, 11 Agustus 2014

Bangsawan Deli dan Langkat di masa penjajahan Belanda

Sultan Deli, Tengku Otteman, bersama anaknya Tengku Amiruddin, berkunjung ke Belanda, 13 Agustus 1938.
(klik untuk memperbesar © gahetna)
Tengku Otteman, putra mahkota Kesultanan Deli, di Istana Maimun, 1926.
(klik untuk memperbesar © gahetna)
Putri Sultan Langkat, Tengku Kalsum dan Tengku Latifa Khanum bersimpuh di hadapan Ratu Wilhelmina dan Pangeran Bernhard, mempersembahkan karangan bunga di perayaan penobatan Wilhelmina yang ke-40 di Stadion Olimpiade Amsterdam, 10 September 1938.
(klik untuk memperbesar © gahetna)
Tengku Otteman, berkunjung ke mesjid dalam acara penobatannya sebagai putra mahkota Kesultanan Deli, 1926.
(klik untuk memperbesar © gahetna)
Tengku Otteman, berfoto bersama para bangsawan Deli dan para petinggi Belanda dalam acara penobatannya sebagai putra mahkota Kesultanan Deli, 1926.
(klik untuk memperbesar © gahetna)
Tengku Otteman, pewaris tahta putra mahkota Kesultanan Deli, menikah dengan Raja Amnah dari Perak, 1925.
(klik untuk memperbesar © gahetna)
Waktu: 1925, 1926, 1938
Tempat: Deli, Langkat, Amsterdam
Tokoh: Tengku Otteman (Sultan Osman Al Sani Perkasa Alamsyah), Wilhelmina Helena Pauline Maria (Ratu Belanda)
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 10 Agustus 2014

Pakubuwono XII di tahun 1949

Pakubuwono XII, 12 Januari 1949 ((c) gahetna)
Pakubuwono XII melayat tentara yang cedera, 9 Februari 1949 ((c) gahetna)
Waktu: 1949
Tempat: Solo
Tokoh: Pakubuwono XII (Raja Kasunanan Surakarta)
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief

Sabtu, 09 Agustus 2014

Republik Indonesia Serikat (10) - "Negara Sumatera Barat"

Pengantar: Sejarah Indonesia tentang masa tahun 1949-1950 akan menyebut kata RIS alias Republik Indonesia Serikat. Tetapi kita tidak banyak menemukan bahasan tentang hal itu. Boleh jadi karena negeri-negeri federasi ini dianggap negara boneka buatan Belanda, dan tokoh-tokohnya dipandang sebagai kaki tangan Belanda di dalam usaha mereka mempertahankan kendali mereka atas Indonesia.

Seri posting kali ini akan menampilkan beberapa foto yang berkenaan dengan RIS ini. Mudah-mudahan ini bisa berkontribusi di dalam menggali bagian sejarah Indonesia yang tampak terlantarkan ini.




"Negara Sumatera Barat" 

(c) gahetna
(c) gahetna
(c) gahetna
(c) gahetna
(c) gahetna
(c) gahetna
(c) gahetna
(c) gahetna
Waktu: 26 Oktober 1947 (atau 1948?)
Tempat: Padang
Tokoh:
Peristiwa: Foto-foto ini memperlihatkan sekelompok masyarakat Minang, yang menurut catatan foto-foto ini dimotori oleh "Saidi nan Poetih", mengajukan petisi pembentukan "Negara Sumatera Barat" kepada Residen Dr. L.B. van Stralen. Kita melihat ada pengerahan massa, orasi, pembubuhan tanda tangan, serta pertemuan dengan beberapa petinggi Belanda berseragam militer. Sejauh mana ini aspirasi murni dari masyarakat ini, harus dipelajari lebih lanjut. Tetapi sejarah memperlihatkan bahwa petisi akhirnya ini tidak berhasil, " Negara Sumatera Barat" tidak tercatat dalam sejarah. Kemungkinan karena mayoritas masyarakat Minang lebih memilih jejak Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, Agus Salim, Sutan Syahrir, Tan Malaka, dll. yang merupakan pendukung gigih Negara kesatuan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal
Catatan:

>>> GARIS WAKTU <<<

Jumat, 08 Agustus 2014

Republik Indonesia Serikat (9) - Negara Indonesia Timur

Pengantar: Sejarah Indonesia tentang masa tahun 1949-1950 akan menyebut kata RIS alias Republik Indonesia Serikat. Tetapi kita tidak banyak menemukan bahasan tentang hal itu. Boleh jadi karena negeri-negeri federasi ini dianggap negara boneka buatan Belanda, dan tokoh-tokohnya dipandang sebagai kaki tangan Belanda di dalam usaha mereka mempertahankan kendali mereka atas Indonesia.

Seri posting kali ini akan menampilkan beberapa foto yang berkenaan dengan RIS ini. Mudah-mudahan ini bisa berkontribusi di dalam menggali bagian sejarah Indonesia yang tampak terlantarkan ini.


Negara Indonesia Timur - Sukawati di Bali 

Sukawati beserta isteri di salah satu pertemuan di Bali ((c) gahetna)
Sukawati beserta isteri di bertemu muka dengan masyarakat Bali ((c) gahetna)

Waktu: sekitar 1947-1949
Tempat: Bali
Tokoh: Cokorda Gde Raka Sukawati (Presiden Negara Indonesia Timur)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal
Catatan: