Selasa, 20 Oktober 2020

A.H. Nasution dan D.N. Aidit dalam jepretan Aleksey Yurievich Drugov di depan Kedubes Uni Sovyet, 1964

(klik untuk memperbesar | © Aleksey Yurievich Drugov)

Meski sama-sama komunis, RRT (negara dengan partai komunis terbesar di dunia) berselisih dengan Uni Sovyet (negara dengan partai komunis terbesar kedua di dunia). Keduanya saling berebut pengaruh, termasuk di Indonesia (negara dengan partai komunis terbesar ketiga di dunia saat itu). Nasution dan Aidit tampak berada di area Kedutaan Besar Uni Sovyet di Jakarta, yang kemungkinan merupakan bagian dari usaha Uni Sovyet dalam melobby jajaran petinggi sipil dan militer Indonesia. 

Foto ini diambil oleh Aleksey Yurievich Drugov, yang saat itu berumur 27 tahun dan merupakan seorang staf penerjemah di kedutaan. Kelak, Drugov menjadi guru besar dalam hal keindonesiaan di Rusia.

Waktu: 1964
Tempat: Jakarta
Tokoh:  Abdul Haris Nasution (Menteri Pertahanan dan Keamanan), Dipa Nusantara Aidit (pucuk pimpinan PKI)
Peristiwa:
Fotografer: Aleksey Yurievich Drugov
Sumber / Hak cipta: Aleksey Yurievich Drugov
Catatan:

Senin, 19 Oktober 2020

Foto para politisi Indonesia dari koleksi Anefo 1946-1948: Yang sedang atau kelak akan menjabat perdana menteri atau wakilnya

Mohammad Roem
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)

Sutan Sjahrir
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)

Muhammad Natsir
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)

Djuanda Kartawidjaja
(klik untuk memperbesar | Anefo / AVS)

Waktu: 1948 atau sebelumnya
Tempat: ?
Tokoh (jabatan pada saat difoto): Mohammad Roem (Menteri Dalam Negeri), Sutan Sjahrir (Perdana Menteri), Muhammad Natsir (Menteri Penerangan), Djuanda Kartawidjaja (Menteri Perhubungan)
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 18 Oktober 2020

Pasukan Sekutu di Morotai, 1944/1945

September 1944: Pendaratan pasukan Sekutu di Morotai
(klik untuk memperbesar | © Everett Collection / imago images)

Pada tanggal 15 September 1944 Sekutu mendaratkan sekitar 57.000 pasukan di Morotai yang saat itu dipertahankan oleh sekitar 500 tentara Jepang. Morotai dengan landasan pacunya merupakan posisi strategis bagi Sekutu untuk melancarkan serangan ke arah Filipina. Setelah tiga minggu pertempuran, yang menewaskan sekitar 300 tentara Jepang dan 30 pasukan Sekutu, Morotai dikuasai oleh Sekutu.

Maret 1945: Lapangan terbang militer di Morotai
(klik untuk memperbesar | © Australian War Memorial)

Setelah merebut Morotai, Sekutu dalam waktu hanya dua bulan membangun landasan pacu untuk pesawat tempur mereka, dan menjadikan Morotai sebagai basis untuk perebutan wilayah lainnya yang masih dikuasai Jepang.

Waktu: 1944, 1945
Tempat: Morotai (Maluku Utara)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Everett Collection / imago images | Australian War Memorial
Catatan:

Sabtu, 17 Oktober 2020

Karikatur Belanda tentang Papua: Faktor Tunku Abdul Rahman

Vrij Nederland, 22 Oktober 1960: "Ik vond het niet nodig vooraf met de Nederl. Regering te praten"
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Vrij Nederland, 3 Desember 1960:
Soepele diplomatie: "Geen verwikken aan … welterusten!"
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Kedua karikatur ini menunjukkan bagaimana Belanda merasa bahwa Federasi Malaya (kelak menjadi Malaysia), yang diwakili oleh Perdana Menterinya, Tunku Abdul Rahman, memiliki kepentingan tersendiri dalam hal Papua (yang tidak dijabarkan lebih lanjut).
Karikatur pertama memperlihatkan bagaimana Rahman berkata kepada A.H. Nasution dalam hal Papua, di belakang Joseph Luns, bahwa "Saya tidak merasa perlu untuk berbicara dengan pemerintah Belanda sebelumnya."
Di karikatur kedua tampak Rahman tidak melanjutkan kegiatan menyetrika baju (di atas badan Subandrio), dan melepas sepatu serta memakai baju tidur, membawa lilin ke kamar, dan berkata "Selamat malam." Potongan koran di pojok kanan atas menyebutkan bahwa Subandrio sebelumnya berkata bahwa satu-satunya penyelesaian masalah Papua adalah dengan penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia secepatnya. Tunku Abdul Rahman mengomentari pernyataan ini dengan berkata: "Jika ini adalah posisi resmi pemerintah Indonesia, maka langkah saya berikutnya adalah pergi tidur dulu."

Waktu: 1960
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 16 Oktober 2020

Grebeg Maulud di tahun Jawa 1814 (1884 M) dalam jepretan Kassian Cephas (4)

Prajurit Langenastra
(klik untuk memperbesar)

Gunungan jaler (pria)
(klik untuk memperbesar)

Gunungan estri (wanita)
(klik untuk memperbesar)

Pralata
(klik untuk memperbesar)

Gamelan Monggang
(klik untuk memperbesar)

Gunungan kutug
(klik untuk memperbesar)

Bonus: Sampul buku
(klik untuk memperbesar)

Waktu: Mulud 1814 (Desember 1884 M)
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Kassian Cephas
Sumber / Hak cipta: Isaac Groeneman / Martinus Nijhoff
Catatan: Dari buku De Garĕbĕg's the Ngajogyåkartå karya Isaac Groeneman yang terbit tahun 1895

Kamis, 15 Oktober 2020

Karikatur Belanda tentang Papua: Belanda gagal melobby Amerika

Het Parool, 4 April 1961: Zonder Commentaar
(Tanpa komentar)
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordan / AVS)

Vrij Nederland, 15 April 1961: Bij het Concertgebouworkest liet de president verstek gaan …
… Hij gaf de voorkeur aan een solo-recital

(Sang Presiden terlihat melamun di gedung konser … dia –si pemusik?– lebih suka bermain solo)
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordan / AVS)


Salah satu hal yang dirasakan Belanda dalam konflik dengan Indonesia mengenai Papua adalah bahwa Amerika Serikat tidak berada di pihak mereka. Karikatur pertama memperlihatkan bagaimana Menlu Belanda Joseph Luns, berusaha menarik Presiden AS John F. Kennedy untuk berbicara mengenai "Dewan Papua" tetapi tidak ditanggapi.

Karikatur kedua memperlihatkan akhirnya Kennedy mau masuk ke gedung pertunjukan, tetapi tampak duduk kebosanan dan tanpa perhatian atas apa yang dipertunjukkan oleh Luns. Satu catatan untuk karikatur ini: Notasi musik di depan cello secara cerdik menampilkan "N. GUINEA".

Waktu: 1961
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 14 Oktober 2020

Grebeg Maulud di tahun Jawa 1814 (1884 M) dalam jepretan Kassian Cephas (3)

Prajurit Nyutra
(klik untuk memperbesar)

Prajurit Kawandasa
(klik untuk memperbesar)

Prajurit Jagakarya
(klik untuk memperbesar)

Prajurit Prawira Tama
(klik untuk memperbesar)

Prajurit Ketanggung
(klik untuk memperbesar)

Prajurit Mantri Jero
(klik untuk memperbesar)

Bonus: Denah Keraton Yogyakarta
(klik untuk memperbesar)

Waktu: Mulud 1814 (Desember 1884 M)
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Kassian Cephas
Sumber / Hak cipta: Isaac Groeneman / Martinus Nijhoff
Catatan: Dari buku De Garĕbĕg's the Ngajogyåkartå karya Isaac Groeneman yang terbit tahun 1895