Minggu, 14 Juni 2020

Ketika kimono menjadi mode di Hindia-Belanda

Sebelum ini kita sudah melihat posting yang menunjukkan bagaimana pakaian tradisional Jepang menjadi kostum yang disukai orang Belanda di Indonesia. Bahkan R.A. Kartini, yang suka kita identikan dengan kebaya, dan adik-adiknya pernah ikut mengikuti mode ini. Posting kali ini menambah foto yang memperlihatkan penggunaan kimono di Hindia-Belanda.

Sekitar 1915
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1915 (a.l.)
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 13 Juni 2020

Lembar musik lagu Indonesia Raya keluaran Rukun Peladjar Indonesia di Belanda

(klik untuk memperbesar | © AVS)
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1960-an (?)
Tempat: Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Keterangan dari Atlas Van Stolk menyebut tahun 1935-1937 sebagai asal dari lembaran musik ini. Tapi ada beberapa hal yang mengarahkan dokumen ini ke zaman yang lebih baru. Pertama, penggunaan huruf u, dan bukan oe. Kedua, informasi bahwa pendapatan bersih dari buku ini akan disumbangkan ke "Palang Merah Indonesia", sebuah nama yang belum ada di tahun 1930-an. Kemudian tentunya peta Indonesia yang sudah mencakup Papua cenderung menempatkan buku ini ke era sesudah Trikora.

Jumat, 12 Juni 2020

Perempuan Belanda dan kebaya (8)

(klik untuk memperbesar | © NGA)
17 Juni 1900
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jakarta, antara 1900 dan 1910
(klik untuk memperbesar | © Busenbender & Co / NGA)
1914
(klik untuk memperbesar | © Uges / NGA)
Jakarta, sekitar 1915
(klik untuk memperbesar | © Charls & Van Ess & Co / NGA)
Sekitar 1915
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekitar 1920
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1900, 1910, 1914, 1915, 1920
Tempat: Jakarta (a.l.)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Busenbender & Co / Charls & Van Ess & Co / Uges
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 11 Juni 2020

Kritik sosial atas masyarakat Belanda/Jawa dalam sketsa Menno van Meeteren Brouwer (3)

Menno van Meeteren Brouwer adalah seorang penggambar yang lahir tahun 1882 dan wafat tahun 1974. Dia banyak membuat sketsa dan gambar tentang masyarakat Hindia-Belanda serta warga Belanda yang tinggal di sana, dari tahun 1920 hingga 1950. Rentetan posting ini akan menampilkan beberapa karyanya yang bernuansa kritik sosial, yang dipublikasikan di tahun 1956.

Kroniek scandaleus
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Kritik di gambar ini masih berlaku sampai sekarang: Di belakang rumah, ketika orang berkumpul, apa yang terjadi? Merumpi.

Kosong - Soerabaia
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Menno tampaknya sangat terusik oleh feudalisme di Jawa saat itu. Gambar di atas kemungkinan ingin mengkritik mengapa sebuah alat transportasi masih memiliki tempat untuk duduk, tetapi orang diharuskan tidak menggunakannya karena pembantu tidak boleh duduk sebelahan dengan tuannya.

Hari besar
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Gambar ini memiliki beberapa kemiripan dengan foto Pakubuwono X pada saat Grebeg Maulud tahun 1926. Apakah Menno hanya sekedar ingin menggambar peristiwa ini dengan versi tangannya, atau dia ingin mempertanyakan kemewahan dan kemegahan yang ditampilkan, akan kembali ke penafsiran para pemerhatinya.

Waktu: zaman penjajahan Belanda
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: Menno van Meeteren Brouwer
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 10 Juni 2020

Beberapa wajah budaya Tionghoa di akhir abad 19, awal abad 20 (3)

Sekitar 1895: Sekelompok pria Tionghoa dalam pakaian tradisional dan kepala plontos (taucang tidak terlihat)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jakarta, 1896: Perumahan Tionghoa (di Pintu Kecil?)
(klik untuk memperbesar | © H. Kleinmann & Co / NGA)
Sebuah kelenteng di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tiga wanita baya Tionghoa dengan kebaya encim
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Semarang, sekitar 1920: Sepasang Tionghoa dengan kebaya encim
(klik untuk memperbesar | © Charls & Co / NGA)
Sebuah keluarga Tionghoa. Perempuan tertua masih mengenakan kebaya encim, yang lainnya sudah memakai pakaian a la Barat
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1895, 1896, 1920
Tempat: Jakarta, Semarang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Charls & Co / H. Kleinmann & Co
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 09 Juni 2020

Kritik sosial atas masyarakat Belanda/Jawa dalam sketsa Menno van Meeteren Brouwer (2)

Menno van Meeteren Brouwer adalah seorang penggambar yang lahir tahun 1882 dan wafat tahun 1974. Dia banyak membuat sketsa dan gambar tentang masyarakat Hindia-Belanda serta warga Belanda yang tinggal di sana, dari tahun 1920 hingga 1950. Rentetan posting ini akan menampilkan beberapa karyanya yang bernuansa kritik sosial, yang dipublikasikan di tahun 1956.

Eenzaam maar niet alleen (kesepian, padahal tidak sendirian)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Gambar ini mengkritik warga Belanda yang sering merasa kesepian; padahal dia tidak hidup sendiri karena di rumahnya banyak bekerja pembantu rumah tangga, tukang kebun, babu, tukang jahit, dll.

Recht is recht (hukum adalah kebenaran)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Gambar ini tampaknya mengkritik sistem peradilan yang masih tergantung pada bangsawan lokal dan pembesar Belanda. Masyarakat harus bersimpuh di lantai tanpa ada pembela, dan harus tunduk pada putusan yang dibuat oleh si pembesar.

De verkochte bruid (pengantin yang dijual)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Gambar ini mengkritik praktek jual beli pengantin peempuan yang saat itu tampaknya masih hal yang banyak terjadi di Jawa.

Waktu: zaman penjajahan Belanda
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: Menno van Meeteren Brouwer
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: