Sabtu, 16 November 2019

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (32): Banyumas, Bogor, Cilacap

Stasiun kereta Sumpiuh, Banyumas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah sekolah di Cilacap
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah gereja (atau biara?) di wilayah Bogor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Rumah praktek dokter R. Koestedjo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Juli/Agustus 1947
Tempat: Bogor, Cilacap, Sumpiuh (Banyumas)
Tokoh:
Peristiwa: Reruntuhan dan puing-puing hasil aksi bumi hangus yang dilakukan pejuang kemerdekaan ketika Belanda menjalankan Aksi Polisionil 1 terhadap bangunan yang dipandang mewakili sosok Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 15 November 2019

Konstruksi jembatan bambu zaman dulu: Tipe sederhana dengan anyaman

PENGANTAR

Sebelum warga Nusantara belum mengenal konstruksi beton atau baja, bambu adalah bahan yang digunakan untuk membuat jembatan. Bambu relatif mudah didapat, tersedia dalam berbagai ukuran panjang, mudah dipotong sesuai kebutuhan, dan cukup elastis dalam menahan beban.

Kelemahan bambu tetapi adalah daya topangnya yang terbatas. Di sini, warga Nusantara mencoba menyiasatinya dengan berbagai kreasi struktur, yang akan kita lihat di beberapa foto berikut ini.

Ketika beban yang harus diseberangkan makin besar dan rumit, serta rentang jembatan makin panjang, akhirnya bambu menemui limit kemampuannya, dan harus menyerahkan fungsi jembatan kepada beton dan baja hingga sekarang ini.

Salah satu kelemahan jembatan sangat sederhana yang hanya terdiri dari gelondongan bambu adalah masalah stabilitas untuk pelintas. Ini akan akut apabila bambunya basah sehingga jembatan menjadi licin dan bisa sangat berbahaya untuk dipakai. Solusi yang ditempuh leluhur kita adalah dengan menggunakan anyaman bambu alih-alih batangnya. Konstruksi ini tentunya lebih makan waktu dalam penyelesaiannya, tetapi bisa memberikan perasaan aman yang lebih.

Purworejo 1928
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Jawa 1915
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Jawa 1939
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1915, 1928, 1939
Tempat: Jawa, Purworejo
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Kamis, 14 November 2019

Belanda menggali tulang belulang korban kekerasan para pemuda pejuang semasa hiruk pikuk setelah proklamasi kemerdekaan, 1946/1947

Balapulang (Tegal) 1946: Tulang belulang warga Belanda atai Indo korban kekerasan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bandung, 1947: Tim medis memeriksa jasad korban kekerasan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Waktu: 1946, 1947
Tempat: Balapulang (Tegal), Bandung
Tokoh:
Peristiwa: Pihak Belanda memiliki istilah yang jarang muncul di buku sejarah Indonesia: "masa bersiap". Ini adalah masa di penghujung 1945 hingga ke 1946, ketika Indonesia sudah memproklamirkan diri, tetapi para pemuda pejuang belum terkonsolidasi dan terkontrol secara solid, sementara warga Belanda yang tersisa di Indonesia masih mengandalkan sisa-sisa KNIL dan sedikit tentara Belanda yang sudah datang untuk mencari keamanan.
Epori kemerdekaan, kebencian terhadap bangsa penjajah, dan hiruk pikuk pasca proklamasi membuat munculnya insiden-insiden kekejaman tak terkendali atas warga Belanda atau Indo-Belanda.
Setelah pasukan reguler dikapalkan dari Belanda, dan militer Belanda menguasai beberapa wilayah penting, pihak Belanda menggali kuburan-kuburan dari korban tindak kekerasan ini, yang dua di antaranya ditampilkan di atas ini.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 13 November 2019

Konstruksi jembatan bambu zaman dulu: Tipe sangat sederhana

PENGANTAR

Sebelum warga Nusantara belum mengenal konstruksi beton atau baja, bambu adalah bahan yang digunakan untuk membuat jembatan. Bambu relatif mudah didapat, tersedia dalam berbagai ukuran panjang, mudah dipotong sesuai kebutuhan, dan cukup elastis dalam menahan beban.

Kelemahan bambu tetapi adalah daya topangnya yang terbatas. Di sini, warga Nusantara mencoba menyiasatinya dengan berbagai kreasi struktur, yang akan kita lihat di beberapa foto berikut ini.

Ketika beban yang harus diseberangkan makin besar dan rumit, serta rentang jembatan makin panjang, akhirnya bambu menemui limit kemampuannya, dan harus menyerahkan fungsi jembatan kepada beton dan baja hingga sekarang ini.

Lombok 1930: Ini jembatan bambu yang sangat sederhana. Sejumlah kecil bambu diletakkan begitu saja di antara bantaran sungai. Jembatan ini diberi pegangan satu sisi untuk menambah kestabilan bagi pelintas.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pekalongan 1903: Jembatan ini menggunakan lebih banyak bambu sehingga lebih lebar dan bisa dilintasi dari dua arah. Pagar pegangan pun tersedia di dua sisi. Kemungkinan jembatan ini menggunakan batang pohon bagian bawah sebagai penguat.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pujon, Malang 1910: Ini adalah satu kiat untuk mengatasi rentangan yang panjang: Orang mencari posisi di mana terdapat fondasi alamiah seperti batu yang bisa digunakan sebagai tumpuan tambahan sehingga batang bambu bisa ditempatkan dari dua sisi sungai secara terpisah.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1903, 1910, 1930
Tempat: Lombok, Pekalongan, Pujon (Malang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 12 November 2019

Insiden-insiden di Jakarta antara pemuda pejuang dan Belanda, November 1945

Pasukan KNIL yang hancur di masa pendudukan Jepang, mencoba mengorganisir diri lagi, dan unjuk diri di jalanan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua mobil yang dirusak pemuda pejuang di Heutzboulevard (sekarang Jalan Teuku Umar)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Aparat Belanda di dekat sebuah mobil berbendera merah putih dan bertuliskan BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang menabrak pagar dan melindas bangku panjang. Di depan mobil tampak pikulan dan seorang berbaju putih (penumpang mobil?) yang tampaknya cedera.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: November 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 11 November 2019

Jongkok di pinggir jalan, kebiasaan warga desa zaman dulu (hingga sekarang) [2]

Penduduk kota, bila berkendara ke desa-desa mungkin akan heran melihat para lelaki muda atau dewasa pada jongkok berdekatan di pinggir jalan. Mereka tidak duduk di tanah, tidak duduk di kursi, atau bersender di batang pohon; mereka jongkok begitu saja. Kebiasaan ini tetap dilakukan jika penduduk desa ini datang ke kota, misalnya Jakarta; tradisi jongkok ini akan terlihat di misalnya stasiun kereta api, atau di peron-peronnya.

Tidak jelas apa manfaat dari jongkok ini. Tapi jika kita melihat foto-foto zaman dulu, tampaknya ini memang kebiasaan yang sudah mendarah daging dari banyak generasi. Mungkin tidak sedikit foto zaman dulu yang menunjukkan orang jongkok. Dua foto pertama di bawah ini berasal dari album perjalanan seorang Belanda bernama A.E.F. Muntz yang mengunjungi Jawa dari bulan Maret 1901 hingga Juli 1902. Foto ketiga berasal dari sekitar tahun 1900.

Jongkok di Cirebon
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Jongkok di Cirebon
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Masyarakat Jawa jongkok di pinggir jalan
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1900, 1901/1902
Tempat: Cirebon, Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Minggu, 10 November 2019

Pasukan Australia dan pengungsi melintasi bangunan yang dibumihanguskan pejuang kemerdekaan, 1946

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Waktu: 1946
Tempat: Jawa Barat (kemungkinan sekitar Bogor)
Tokoh:
Peristiwa: Latar belakang ketiga foto ini adalah kompleks perumahan yang diporakporandakan para pejuang kemerdekaan. Di latar delapan tampak beberapa warga melintas, serta juga tiga orang dari kesatuan militer Australia. Karena pasukan Australia banyak ditempatkan di wilayah Bogor, kemungkinan lokasi foto ada di dilayah ini. Perlu pula dicatat bahwa warga yang melintas tampak berpakaian relatif rapi dan bersepatu yang menunjukkan mereka bukan warga kampung. Malah, ada kemungkinan bukan warga setempat. Pasukan Australia kemungkinan juga datang untuk melindungi atau mengungsikan mereka.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: