Senin, 12 Desember 2016

Foto Adam Malik dari tahun 1966

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: 18 Maret 1966
Tempat: Jakarta
Tokoh: Adam Malik (bakal Menteri Luar Negeri RI)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: ANP / Spaarnestad Photo
Catatan:

Minggu, 11 Desember 2016

Mayor Achmad Sachdi, perwira Siliwangi yang membelot ke pihak Belanda (2)

PENGANTAR

Mayor Achmad Sachdi adalah komandan Batalyon V Brigade 13 Divisi Siliwangi dengan wilayah operasi di pegunungan dan hutan-hutan Purwakarta dan Karawang di tahun 1948. Pada saat itu Divisi Siliwangi resminya sedang hijrah ke Jawa Tengah/Yogyakarta.

Di akhir tahun 1948 Achmad Sachdi memutuskan untuk menghentikan perjuangan. Bukan hanya itu, dia malah menyerahkan diri ke pihak Belanda. Dan bahkan lebih jauh lagi, dia bersedia untuk menjadi mesin propaganda militer Belanda untuk mengajak rakyat Pasundan untuk mendukung Belanda.

Maka di awal 1949, ketika Belanda melakukan agresi militer ke Yogyakarta, Achmad Sachdi berkeliling di sekitar Purwakarta untuk menyeru rakyat agar berpihak kepada Belanda. Dengan dikawal, didampingi, dan disopiri militer Belanda, Achmad Sachdi dengan seragam TNI-nya berbicara kepada masyarakat sekitar Purwakarta tentang bagaimana enaknya tetap berada di bawah kekuasaan Belanda.

Pada tahun itu juga ternyata Achmad Sachdi harus melihat bahwa Belanda pada akhirnya harus mengakui kemerdekaan Indonesia. Tetapi Achmad Sachdi tampaknya memang orang yang pandai menyintas. Dikabarkan hingga akhir hayatnya di tahun 1970-an dia dikenal sebagai politisi yang aktif di Golongan Karya.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 25 Januari 1949
Tempat: Purwakarta
Tokoh: Mayor Achmad Sachdi (komandan Siliwangi yang membelot ke pihak Belanda)
Peristiwa: Achmad Sachdi didampingi militer Belanda melakukan propaganda ke masyarakat Purwakarta dengan menggunakan pengeras suara untuk mendukung Belanda
Fotografer: H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 10 Desember 2016

Jumat, 09 Desember 2016

Mayor Achmad Sachdi, perwira Siliwangi yang membelot ke pihak Belanda (1)

PENGANTAR

Mayor Achmad Sachdi adalah komandan Batalyon V Brigade 13 Divisi Siliwangi dengan wilayah operasi di pegunungan dan hutan-hutan Purwakarta dan Karawang di tahun 1948. Pada saat itu Divisi Siliwangi resminya sedang hijrah ke Jawa Tengah/Yogyakarta.

Di akhir tahun 1948 Achmad Sachdi memutuskan untuk menghentikan perjuangan. Bukan hanya itu, dia malah menyerahkan diri ke pihak Belanda. Dan bahkan lebih jauh lagi, dia bersedia untuk menjadi mesin propaganda militer Belanda untuk mengajak rakyat Pasundan untuk mendukung Belanda.

Maka di awal 1949, ketika Belanda melakukan agresi militer ke Yogyakarta, Achmad Sachdi berkeliling di sekitar Purwakarta untuk menyeru rakyat agar berpihak kepada Belanda. Dengan dikawal, didampingi, dan disopiri militer Belanda, Achmad Sachdi dengan seragam TNI-nya berbicara kepada masyarakat sekitar Purwakarta tentang bagaimana enaknya tetap berada di bawah kekuasaan Belanda.

Pada tahun itu juga ternyata Achmad Sachdi harus melihat bahwa Belanda pada akhirnya harus mengakui kemerdekaan Indonesia. Tetapi Achmad Sachdi tampaknya memang orang yang pandai menyintas. Dikabarkan hingga akhir hayatnya di tahun 1970-an dia dikenal sebagai politisi yang aktif di Golongan Karya.

Achmad Sachdi yang sengaja tetap dibiarkan memakai seragam TNI untuk menunjukkan bahwa dia adalah contoh dari perwira yang "insyaf"
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Achmad Sachdi didampingi, dikawal, dan disopiri tentara Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Achmad Sachdi menjadi "kesayangan" Belanda karena menunjukkan adanya perwira TNI yang "sadar akan sia-sianya berperang melawan Belanda"
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 25 Januari 1949
Tempat: Purwakarta
Tokoh: Mayor Achmad Sachdi (komandan Siliwangi yang membelot ke pihak Belanda)
Peristiwa: Achmad Sachdi didampingi militer Belanda melakukan propaganda ke masyarakat Purwakarta untuk mendukung Belanda
Fotografer: H. Wakker
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 08 Desember 2016

Hamengkubuwono IX di pertemuan Kaliurang, 1948

 Hamengkubuwono IX, Abdulkadir Widjojoatmodjo, dan Abdul Gaffar Pringgodigdo
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Sultan Hamid II dan Hamengkubuwono IX
(klik untuk memperbesar | © fotoleren)
Waktu: April 1948
Tempat: Kaliurang (Yogyakarta)
Tokoh: Hamengkubuwono IX (Sultan Yogyakarta), Hamid II (Sultan Pontianak), Abdul Gaffar Pringgodigdo (Sekretaris Negara), Abdulkadir Widjojoatmodjo (perwira KNIL yang memihak Belanda)
Peristiwa:
Fotografer: Charles Breijer
Sumber / Hak cipta: Fotoleren
Catatan: Tokoh paling kiri di foto teratas (memegang rokok) disebut oleh catatan foto sebagai "Joegandi" yang kemungkinan besar salah eja. Ada pembaca yang tahu nama sebenarnya?

Rabu, 07 Desember 2016

Pemberontakan PKI Madiun 1948: Eksekusi atas para pemberontak

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: September 1948
Tempat: Madiun
Tokoh: 
Peristiwa: Eksekusi di depan umum dengan menggunakan senapan dan bayonet atas para pelaku pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. 
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Tiga dari foto di atas pernah dimuat di posting tanggal 29 Agustus dan 20 Oktober 2016. Sekarang ketiga foto ini digabung dengan dua foto lain dari peristiwa yang sama, yang baru terkumpul belakangan.

Selasa, 06 Desember 2016

Potret Sutan Sjahrir di sekitar akhir 1940-an

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: sekitar akhir 1940-an
Tempat:
Tokoh: Sutan Sjahrir (pejuang kemerdekaan melalui jalur diplomasi)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: