Kamis, 13 Februari 2025

Dari Padang sampai ke Banda: Lukisan pemandangan Nusantara karya Charles William Meredith van de Velde, 1844 (1 - Padang)

Charles William Meredith van de Velde (1818-1898) tampaknya seorang dengan berbagai bakat dan kemampuan. Dia pernah menjadi perwira angkatan laut, tentara bayaran, pembuat peta, anggota palang merah, hingga misionaris. Salah satu keahlian dia adalah menangkap keindahan alam dari tempat yang dia kunjungi, dan menuangkannya ke atas kanvas. Dia terkenal sebagai pembuat peta Palestina di pertengahan abad ke-19, serta pelukis kota dan tempat di Palestina yang dia singgahi. Sebelumnya, dia juga mengabadikan banyak tempat di Nusantara dalam beberapa karya lukisannya, yang akan kita lihat di seri berikut ini.


Pelabuhan Padang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah wilayah pesisir di sekitar Padang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Salah satu sudut kota Padang dengan bangunan kolonial dan rumah tradisional, serta berbagai orang dalam pakaian Eropa dan tradisional
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar: Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 12 Februari 2025

Foto udara atas kawasan-kawasan industri di Jawa, sekitar pertengahan 1920-an (1)

Foto udara atas sebuah kawasan industri yang umumnya mengikuti pola sbb.: kompleks pabrik yang biasanya terdiri dari bangunan-bangunan berwarna putih, area perumahan pegawai terutama warga Belanda, dan lapangan yang biasanya menjadi tempat bermain sepakbola
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kompleks industri di Jawa Barat, kemungkinan industri perkebunan (bukan pabrik gula karena tidak ada cerobong asap)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah pabrik dengan cerobong asap, di tepi sebuah sungai besar, di mana Belanda tampaknya membangun saluran air yang mengapit pabrik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kawasan industri di sekitar perumahan warga dan pesawahan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1920-an (1924?)
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 11 Februari 2025

Peta kuno keluaran Italia dari tahun 1690 tentang kepulauan Nusantara

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)


Tahun terbit: sekitar 1690
Tempat terbit: Italia
Tokoh:
Deskripsi:

Ini merupakan versi hitam-putih dari peta yang sebelumnya dimuat di posting ini. Peta keluaran Italia ini memuat relatif  banyak nama-nama tempat, baik yang biasa muncul di peta lain, maupun yang jarang. Di Sumatera misalnya, selain nama biasa seperti Aceh, Pedir, dan Palembang, peta ini juga memuat Pasai (Passay), Kampar (Camfer), Jambi, Pasaman, serta Pulau Wei (Vay), Pulau Nias (Nyas). Di Kalimantan, selain nama langganan seperti Banjarmasin dan Sukadana, peta ini juga memuat nama lain seperti Balikpapan (Billipapan), Sampit, dan Kota Waringin (Cotaringin).

Menariknya, Pulau Jawa, yang bentuknya masih perlu beberapa koreksi, hanya diwakili oleh sedikit nama saja, yaitu Banten, Batavia, Demak, Mataram, Tuban, Pasuruan, dan Blambangan. Sulawesi sebaliknya: Di peta-peta lain umumnya hanya diberi sedikit nama tempat; di peta ini malah sebaliknya, lumayan banyak. Selain nama biasa seperti Makassar dan Manado, ada juga Toli-toli (Tettoli), Gorontalo (Coroutalao), dan Mamuju (Mamoya).

Wilayah Maluku dan Nusa Tenggara seperti biasa dipenuhi dengan pulau-pulau kecil dan sedang dengan nama-nama yang relatif sudah terkenal di Eropa, seperti Seram, Halmahera (Gilolo), Banda, Timor, Flores, dsb. Papua masih digambar "ngambang" yang menandakan bahwa konturnya memang belum sepenuhnya terjelajahi. Begitu juga Kepulauan Aru, yang masih digambar seolah-olah sebuah pulau besar dengan kontur bagian timur dibiarkan kosong (Arow).

Juru kartografi: Vincenzo Maria Coronelli
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 10 Februari 2025

Radio Dienst Luchtmacht Andir, sekitar pertengahan 1920-an (2)

Belanda tampaknya berencana menjadikan Bandung dan sekitarnya sebagai pusat sarana komunikasi. Dinas pos ditempatkan di Bandung, begitu juga jawatan telepon. Belanda kemudian membangun Stasiun Malabar yang pada saat itu menjadi sarana komunikasi tercanggih tanpa tanding di belahan bumi bagian selatan. Di pangkalan udara Andir, Belanda menempatkan Radio Dienst Luchtmacht (Dinas Radio Angkatan Udara) yang penampakan luar dan dalamnya akan ditampilkan di posting ini. Ketika Jepang menyerang Hindia-Belanda di tahun 1942, fasilitas-fasilitas di Bandung ini menjadi salah satu serangan utama Jepang guna mematahkan keunggulan Belanda dalam hal komunikasi, dan membuat beberapa bangunan dan sarana ini hancur tinggal kenangan.

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1920-an (1924?)
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 09 Februari 2025

Lukisan tentang tokoh-tokoh wayang purwa karya R. Soelardi terbitan tahun 1919 (8)

Satyaki
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Burisrawa
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kretawarma
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Parikesit
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1919
Tempat terbit: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: R. Soelardi
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 08 Februari 2025

Radio Dienst Luchtmacht Andir, sekitar pertengahan 1920-an (1)

Belanda tampaknya berencana menjadikan Bandung dan sekitarnya sebagai pusat sarana komunikasi. Dinas pos ditempatkan di Bandung, begitu juga jawatan telepon. Belanda kemudian membangun Stasiun Malabar yang pada saat itu menjadi sarana komunikasi tercanggih tanpa tanding di belahan bumi bagian selatan. Di pangkalan udara Andir, Belanda menempatkan Radio Dienst Luchtmacht (Dinas Radio Angkatan Udara) yang penampakan luar dan dalamnya akan ditampilkan di posting ini. Ketika Jepang menyerang Hindia-Belanda di tahun 1942, fasilitas-fasilitas di Bandung ini menjadi salah satu serangan utama Jepang guna mematahkan keunggulan Belanda dalam hal komunikasi, dan membuat beberapa bangunan dan sarana ini hancur tinggal kenangan.

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1920-an (1924?)
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 07 Februari 2025

Lukisan tentang tokoh-tokoh wayang purwa karya R. Soelardi terbitan tahun 1919 (7)

Abimayu
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Aswattama
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Jayadrata
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Indra
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1919
Tempat terbit: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: R. Soelardi
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: