Kamis, 19 Desember 2024

Salah satu peta kuno teraneh tentang Nusantara dari tahun 1608

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)


Tahun terbit: 1608
Tempat terbit: Köln (Jerman)
Tokoh:
Deskripsi: Peta berusia 400 tahun lebih ini telah menggambarkan kontur Hindia, Semenanjung Malaka, dan pesisir timur Vietnam serta Tiongkok dengan cukup baik. Tapi di luar itu, luar biasa menarik jika dilihat dari sudut pandang sejarah kartografi, alias lumayan amburadul. Hanya Sumatera yang tergambar dengan cukup lumayan. Kita a.l. bisa membuat catatan sbb.:

  • Sumatera disebut sebagai pulau legendaris Taprobana. Pedir sudah dikenal; Palembang ditulis sebagai "Zoida". Ada tempat di pantai barat dengan nama "Birnem" yang entah apakah maksudnya Bireuen, yang sejatinya ada di pantai timur.
  • Pulau Bangka disebut dengan nama lamanya Chinabato; di sini ditulis "Clinabare" yang kemungkinan salah salin.
  • Pulau Jawa ("Iaua Manor") sudah pas posisinya tapi bentuknya terlalu gemuk.
  • Pulau Kalimantan ("Borneo") dan Sulawesi ("Celebis") tidak karuan bentuknya.
  • Pulau Halmahera ("Gilolo") dan Seram ("Caylã") relatif lebih tergambar kontur aslinya.
  • Di Nusa Tenggara pulau ini mengenal Sumbawa ("Cambada"), Sumba ("Subao"), Flores ("Batuliar"), dan Timor.

Juru kartografi: Matthias Quad dan Johann Bussemacher
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 18 Desember 2024

Ambon setelah Jepang kalah perang dan Belanda kembali datang, 1945 (5)

Sebuah keluarga menjemur kacang (?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Rumah di Ambon dengan dinding dari daun nipah (?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang ibu membawa 4 rantang dengan makanan yang kemungkinan dibagikan pihak NICA
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah sekolah untuk anak-anak yang dibuka oleh pihak NICA
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Ruang kelas di sekolah dengan tempat duduk seadanya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang anak kecil di rumah sakit yang dikelola NICA di Ambon
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: November 1945
Tempat: Ambon
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 17 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (8)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini; di kesempatan ini kenang-kenangan Carl Bock di Sumatera.


Dari Sumetara, Carl Bock mewariskan gambar-gambar hewan yang dia amati, seperti kambing hutan … (klik untuk memperbesar)
… siamang …
(klik untuk memperbesar)
… dan gobang
(klik untuk memperbesar)
Tempat kediaman Carl Bock di Payo (kemungkinan di Merapi Barat, Lahat, Sumatera Selatan)
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Senin, 16 Desember 2024

Ambon setelah Jepang kalah perang dan Belanda kembali datang, 1945 (4)

Salah seorang warga lokal yang menjadi polisi NICA …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… yang umumnya mantan anggota KNIL sebelum masa pendudukan Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pasukan Australia mengamati kedatangan sebagian dari 265 warga Manado yang akan menjadi polisi NICA. Sebelumnya mereka ditawan Jepang di Pulau Seran.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah satu sudut kota Ambon
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah warung makan di Ambon
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua bocah Tionghoa mandi di tepi sumur, sementara seorang bapak mencuci wajan, dan seorang ibu melirik ke arah kamera
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: November 1945
Tempat: Ambon
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 15 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (7)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Seorang wanita Dayak bernama Sulau Landang, dengan ikat kepala, kalung berlapis, dua pasang anting di kuping yang memanjang, serta tattoo di tangan dan kaki
(klik untuk memperbesar)
Kuburan seorang pemuka Dayak bernama Rajah Sinen, dalam bentuk bangunan panggung dengan ukiran dan hiasan, serta penjagaan
(klik untuk memperbesar)
Seekor kancil yang ditemui Carl Bock di Sumatera
(klik untuk memperbesar)
Seorang pemburu harimau bernama Sinen di Sumatera
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan, Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Sabtu, 14 Desember 2024

Ambon setelah Jepang kalah perang dan Belanda kembali datang, 1945 (3)

Barisan polisi NICA yang terdiri dari warga lokal …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… yang umumnya dulunya adalah prajurit KNIL sebelum Jepang datang …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan sempat ditawan Jepang ketika Belanda terusir dari Ambon
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tampak dekat dari para polisi NICA …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… peniup terompet …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan seorang polisi militer
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Ambon
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 13 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (6)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Seorang pria Dayak dari Long Wai dalam pakaian perang, lengkap dengan tameng, tombak, mandau, pakaian berbulu binatang
(klik untuk memperbesar)
Seorang pemuda Dayak bernama Hetdung, yang kemungkinan adalah pengiring Carl Bock dalam perjalanannya
(klik untuk memperbesar)
Carl Bock melukis semacam selfie dengan menggambarkan dia berada di depan melintasi sebuah sungai di wilayah Benanga diikuti para pengiringnya yang membawa perbekalan dan peralatan
(klik untuk memperbesar)
Seorang kepala suku Dayak terbaring dengan ditutupi kain; seorang pria dan seorang wanita yang menuntun anak berada di dekatnya
(klik untuk memperbesar)
Pria ini bernama Sibau Mobang, merupakan salah satu kepala suku Dayak, dengan kalung berlapis dan kuping memanjang yang antingnya tampaknya sudah dilepas
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan: