Jumat, 07 Maret 2025

Sketsa tentang Solor dan Timor dari tahun 1811 hasil penjelajahan Perancis di bawah pimpinan Thomas Baudin

Teluk Kupang dengan dua kapal layar besar serta beberapa kapal dan perahu kecil di sekelilingnya
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Seorang wanita Timor memikul air dengan perangkat tradisional
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Naba Leba, Raja Solor
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kelelawar ladam di Timor
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Peta Teluk Kupang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1811
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Perancis mengirimkan sebuah tim ekspedisi laut di tahun 1800-1803 di bawah pimpinan kapten Thomas Baudin dengan tujuan mendirikan wilayah jajahan di Australia. Dalam perjalanan menuju Australia, mereka singgah di Kupang, dan mewariskan gambar, peta, dan sketsa di atas. Karya-karya ini diterbitkan pada tahun 1811, delapan tahun setelah ekspedisi selesai.
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery dan Internet Archive.
Catatan: Edisi lain dari peta Teluk Kupang pernah dimuat di posting ini.

Kamis, 06 Maret 2025

Foto-foto pengintaian udara yang diambil Sekutu semasa Perang Dunia 2: Baubau di Buton

Foto pengintaian udara oleh Sekutu ke wilayah Baubau, yang a.l. memberikan 3 keterangan tempat: rumah sakit lepra, tempat tinggal anak dan istri dari para prajurit KNIL, serta tempat pelacuran.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1944
Tempat: Baubau (Buton)
Tokoh:
Peristiwa: Menjelang akhir Perang Dunia 2, ketika Jepang makin defensif, pihak Sekutu memanfaatkan keunggulan udara mereka untuk melakukan pengintaian atas-atas posisi penting atau strategis, termasuk berbagai tempat di wilayah Nusantara seperti yang ditampilkan di foto di atas.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga foto-foto sebelumnya seperti yang dimulai di posting ini.

Rabu, 05 Maret 2025

Lukisan dari tahun 1830 tentang Anyer dan Bogor untuk mengenang Thomas Stamford Raffles dan kekuasaan Inggris di Jawa

Enam warga Inggris, dua di antaranya wanita, menyeberangi Sungai Cisadane di sekitar Batutulis, dengan latar belakang Gunung Salak
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Gedung yang kelak menjadi Istana Bogor, saat itu dengan bendera Union Jack, dengan latar belakang Gunung Gede, dan latar depan Sungai Cisadane
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Taman yang kelak menjadi Kebun Raya Bogor, dengan Gunung Gede di latar belakang, dan Sungai Ciliwung di kiri tengah
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pemandangan di sekitar tugu yang didirikan di Anyer untuk mengenang Charles Allan Cathcart, seorang bangsawan Inggris yang ditunjuk menjadi duta untuk Tiongkok, tetapi meninggal dalam perjalanan di Selat Bangka, dan kemudian dimakamkan di Anyer
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1830
Tempat terbit: London
Tempat yang ditampilkan: Anyer, Bogor
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lukisan-lukisan ini tampaknya diambil dari buku karya istri Raffles, Sophia, yang berjudul Memoir of the life and public services of Sir Thomas Stamford Raffles: particularly in the government of Java, 1811-1816, and of Bencoolen and its dependencies, 1817-1824: with details of the commerce and resources of the Eastern archipelago, and selections from his correspondence.

Selasa, 04 Maret 2025

Armada pesawat-pesawat Belanda di sekitar tahun 1930-an

Sebuah pesawat Fokker C.IV di Sumatera dengan hangar alami
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah pesawat latih di Andir, Bandung, dengan logo ayam, dan kode "PK" yang digunakan Indonesia hingga sekarang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemungkinan pesawat-pesawat tempur Koolhoven F.K.51
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an
Tempat: a.l. Bandung, Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 03 Maret 2025

Peta Nusantara dari tahun 1860: Ketika di selatan Fak Fak ada pulau bernama "Van den Bosch" yang sekarang hilang

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1860
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini merupakan kompilasi dari berbagai peta, yang berasal dari berbagai sumber seperti Amerika, Belanda, Inggris, dan Spanyol. Dalam skala yang ditampilkan, peta ini lumayan mendetail. Pulau-pulau kecil yang berserakan sepanjang Nusantara diberi nama. Beberapa tempat memiliki nama hingga ke jenjang kecamatan. Peta ini juga sudah sangat akurat untuk wilayah dari Aceh hingga ke Maluku. Di sekitar Papau peta ini cukup jujur untuk mengatakan bahwa beberapa kontur pantai masih belum terpetakan dengan benar. Ini terlihat dari garis putus-putus atau tanpa garis di sekitar Teluk Yos Sudarso, Kepulauan Aru, dan Kepulauan Tanimbar. Yang menarik, di selatan Fak Fak tampak garis putus-putus, kemudian kosong di bawahnya, dan muncul pulau dengan nama "Van den Bosch". Sekarang kita sudah tahu bahwa itu semua merupakan bagian utuh dari pulau Papua, dengan kata lain garis putus-putus, wilayah kosong, dan pulau itu seharusnya menyatu ke Papua.
Yang menarik lainnya: Garis-garis pantai diberi warna sesuai dengan siapa yang menguasainya: oranye untuk Spanyol dan Portugis, orange pucat untuk Belanda, pink untuk Inggris, serta abu-abu untuk wilayah yang masih dikuasai penduduk setempat. Jadi menurut peta ini, masih banyak wilayah di Nusantara yang saat itu tidak atau belum dikuasai Belanda:Aceh, pesisir timur Sumatera, pedalaman Kalimantan, Bali, Lombok, bagian barat Flores, serta Papua.
Juru kartografi: J. Bartholomew
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 02 Maret 2025

Foto udara sekitar Jawa, kemungkinan di pertengahan 1930-an (3)

Pemadangan di atas Kali Mas, Surabaya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bangunan yang kelak menjadi Istana Merdeka, serta lapangan yang kelak dihiasi Tugu Monas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemungkinan salah satu kawasan di satu muara sungai di Surabaya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an
Tempat: Jakarta, Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 01 Maret 2025

Dari Padang sampai ke Banda: Lukisan pemandangan Nusantara karya Charles William Meredith van de Velde, 1844 (7 - Maluku)

Charles William Meredith van de Velde (1818-1898) tampaknya seorang dengan berbagai bakat dan kemampuan. Dia pernah menjadi perwira angkatan laut, tentara bayaran, pembuat peta, anggota palang merah, hingga misionaris. Salah satu keahlian dia adalah menangkap keindahan alam dari tempat yang dia kunjungi, dan menuangkannya ke atas kanvas. Dia terkenal sebagai pembuat peta Palestina di pertengahan abad ke-19, serta pelukis kota dan tempat di Palestina yang dia singgahi. Sebelumnya, dia juga mengabadikan banyak tempat di Nusantara dalam beberapa karya lukisannya, yang akan kita lihat di seri berikut ini.


Ternate dengan Gunung Gamalama di latar belakang. Tampak pula kawasan pelabuhan dengan sebuah benteng (?) dan pemukiman di pesisir. Latar depan memperlihatkan beberapa kapal layar dan perahu.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pemandangan di Banda dengan komposisi yang digemari Van de Velde: gunung, kali ini Gunung Api Banda, dan perbukitan di latar belakang, serta kawasan pelabuhan dan pemukiman di pesisir. Kemudian perahu layar besar beserta beberapa perahu di latar tengah dan depan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar: Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: